Leave a comment

Contoh Kata Pengantar untuk Makalah Filsafat Ilmu

KATA PENGANTAR

Saya bersyukur kepada Tuhan YME karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Pengkajian landasan ilmiah menjadi pokok pikiran dalam makalah ini. Landasan pengkajian ilmiah ini meliputi banyak dimensi. Kami tertarik untuk menyusun makalah tentang materi landasan pengkajian ilmiah karena kami ingin membantu pembaca agar lebih mudah dalam memahami landasan untuk melaksanakan pengkajian ilmiah.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sigit selaku dosen mata kuliah Filsafat Ilmu, kepada semua teman yang telah membantu kami memahami materi untuk menyusun makalah ini.

Saya menyadari bahwa makalah ini memiliki kekurangan. Maka dari itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Malang, Maret 2011

Penulis


Leave a comment

LANDASAN PENGKAJIAN ILMIAH MENURUT DIMENSI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Landasan pengkajian ilmiah memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Landasan pengkajian ilmiah lazimnya meliputi dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Penggunaan masing-masing dimensi untuk melakukan pengkajian ilmiah harus lebih cermat. Hal ini karena tiap dimensi mempunyai pembahasan yang berbeda. Meski tiap dimensi berbeda, namun dimensi-dimensi tersebut memiliki keterkaitan. Tiap dimensi tersebut masih dibedakan lagi menjadi beberapa bagian.

Dimensi-dimensi dalam landasan pengkajian ilmiah sangat menarik, karena didalamnya menmbahas semua dasar-dasar untuk melakukan pengkajian ilmiah. Hal ini menarik kami untuk membuat masalah ini sebagai topik makalah.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut, ada tiga masalah yang perlu dibahas dalam makalah ini.

1. Meliputi apa saja masing-masing dimensi landasan pengkajian ilmiah.
2. Bagaimana masing-masing dimensi tersebut membahas dasar-dasar pengkajian ilmiah.

1.3 Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, makalah ini memiliki tiga tujuan.
1. Mengidentifikasi tiap-tiap dimensi pengkajian ilmiah.
2. Mendeskripsikan pembahasan masing-masing dimensi pengkajian ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Ontologi

Ontologi membahas segala sesuatu yang konkret, serta membahas perbedan antara benda-benda dan makhluk-makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Semua benda, tumbuh-tumbuhan, binatang dan orang merupakan suatu unsur-unsur didalamnya. Pada intinya, ontologi menetapkan ruang lingkup dan penafsiran hakikat realitas dari objek ilmu atau tentang hakikat ilmu.

Secara ontologis, pandangan tentang realitas itu terbagi dalam berbagai aliran berpikir:

1. Materialisme, hakekat alam semesta dan seisinya ini adalah benda/materi.
2. Idealisme, inti semua ini adalah jiwa.
3. Dualisme, inti semua adalah materi dan imateri.
4. Agnotisme, manusia tidak bisa memahami hakikat.

2.1.1 Logika

Logika (dari bahasa yunani logikos, artinya berhubungan dengan pengetahuan, berhubungan dengan bahasa) membahas kesehatan cara berpikir, aturan-aturan yang mengatur pernyataan-pernyataan yang sah. Dengan kata lain logika adalah suatu ilmu yang mengajarkaan cara untuk berpikir sehat. Logika tidak mengajarkan apapun tentang manusia atau dunia.

Sejak abad 18 sampai awal abad 20 logika matematika menjadi satu-satunya dasar mengembangkan ilmu dan baru abad 20, bahasa digunakan sebagai sistem logika untuk pengembangan ilmu.

Dalam logika dikenal logika formal (bentuk berpikir) dan material (isi).

Contoh dari logika :
1. Setiap mahasiswa akan diwisuda, Andi adalah mahasiswa. Jadi, Andi akan diwisuda (bentuk benar, isi benar).
2. Presiden juga manusia. Pemulung juga manusia. Jadi, pemulung sama dengan presiden (Bentuk benar, isi tidak benar.)

2.1.2 Etika

Etika (dari bahasa yunani ethos, artinya adat, cara bertindak, tempat tinggal, kebiasaan) berbicara tentang tindakan. Etika mempersoalkan bagaimana manusia bertindak yang ditentukan bermacam-macam norma seperti norma-norma santun, norma-norma hukum dan norma-norma moral. Norma-norma yang paling penting untuk tindakan manusia adalah norma-norma moral. Etika membantu manusia untuk mengambil sikap terhadap semua norma dari dalam dan dari luar.

Dalam etika biasanya dibedakan menjadi etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif memberi gambaran kesadaran moral, dari norma-norma dan konsep-konsep etis. Etika normatif tidak berbicara lagi tentang gejala-gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan manusia. Selain itu, ada aliran-aliran baru dalam etika seperti :

1. Hedonisme, etika ditentukan oleh bisa tidaknya memberi kenikmatan kepada manusia.
2. Vitalisme, etika ditentukan oleh ada tidaknya kekuatan hidup.
3. Utilitarianisme, etika ditentukan oleh kemanfaatannya bagi manusia.

2.1.3 Estetika

Estetika (dari kata yunani aisthesis, artinya pengamatan) bebicara tentang keindahan, mencari hakekat- hakekat keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani dan keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni) dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksinya.

Estetika dibedakan antara suatu bagian deskriptif dan suatu bagian normatif. Estetika deskriptif menggambarkan gejal-gejala pengalaman keindahan, sedangkan estetika normatif mencari dasar pengalaman itu.

Banyak filsuf telah menyusun suatu estetika misalnya :
1. Heigel membedakan suatu rangkaian seni-seni yang mulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi.
2. Schopenhauer melihat suatu rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik mendapat tempat dalam estetika. Musik dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.

2.2 Epistemologi

Epistemologi (dari bahasa yunani logika, artinya pengetahuan; episteme, artinya tentang pengetahuan) membahas tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. Epistomologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.

Pada intinya epistemologi membahas mengenai cara memperoleh dan mengenai kesahihan atau kebenaran ilmu. Epistemologi sering juga disebut filsafat pengetahuan karena berkutat pada dasar-dasar pengetahuan. Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang dan bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain.

2.2.1 Rasionalisme

Rasionalisme (dari bahasa latin latio, artinya akal budi) mengajar bahwa pengetahuan yang benar adalah yang bisa dinalar dan diuji oleh akal. Filsafat rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya, menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman, serta menolak perasaan (emosi), adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer.

Rasionalisme merupakan awal mula timbulnya perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika.

Beberapa kritik yang muncul dalam rasionalisme yaitu :
1. Pengetahuan dibentuk oleh ide yang tidak dapat diraba. Masih ada perbedaan pendapat tentang kebenaran dasar yang menjadi landasan bernalar.
2. Banyak orang kesulitan menerapkan konsep rasional pada masalah hidup yang praktis. Idea atau konsep dianggap obyektif, menghilangkan nilai dari pengalaman inderawi.
3. Rasionalisme gagal menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia saat ini.

2.2.2 Empirisme

Empirisme (dari bahasa yunani empiria, artinya pengalaman) adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Empirisme mengajar bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi, bukannya dari akal budi. Karena akal budi diisi dengan kesan-kesan yang berasal dari pengamatan. Pada intinya empirisme mengajarkan bahwa pengetahuan yang benar adalah yang bisa dirasakan secara empiris dengan indera. Tokoh-tokoh empirisme antara lain Bacon, Hobbes, Locke, dan Hume.

Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Beberapa jenis empirisme :

1. Empirio-kritisisme. Aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi.
2. Empirisme Logis. Aliran-aliran ini memandang adanya batas-batas empirisme.
3. Empiris Radikal. Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan.

Imanuel Kant menyatukan empirisme dan rasionalisme, dengan memperlihatkan bagaimana peranan panca indera dan akal budi, dalam suatu analisa raksasa dari seluruh proses pengetahuan.

2.2.3 Positivisme

Positivisme menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Positivisme berpandangan bahwa empirisme dan rasionalisme harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Ada rangkaian prosedur tertentu (rumusan masalah, pengumpulan data, klasifikasi data, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, penarikan kesimpulan) untuk mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu.

Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme yaitu:
1. Sosiologi (teori pengetahuan), diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2. Empirio-positivisme, berawal pada tahun 1870-1890-an. Tokoh-tokohnya Mach dan Avenarius, yang meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif (ciri positivisme awal).
3. Lingkaran Wina, membahas bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain. Tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin, dan lain-lain.
Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Dalam positivisme, ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan hanya fakta-fakta yang mungkin dapat menjadi objek pengetahuan. Positivisme menolak segala hal diluar fakta, menolak segala penggunaan metoda di luar yang digunakan untuk menelaah fakta. Positivisme mengakui eksistensi dan menolak esensi. Ia menolak setiap definisi yang tidak bisa digapai oleh pengetahuan manusia.

2.2.4 Intuisionisme

Intusionisme mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia dan tidak ada penentu kebenaran matematika diluar aktivitas berpikir. Intuisionisme dipelopori oleh Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881–1966) yang berkebangsaan Belanda. Ketepatan dalil-dalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia.

Intusionisme dalam beberapa bentuk hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi (meliputi sebagian saja) yang diberikan oleh analisa. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan.

2.3 Aksiologi

Aksiologi (berasal dari kata Yunani axios, artinya sesuai, wajar, dan logos, artinya ilmu) dipahami sebagai teori nilai. Pada intinya aksiologi merupakan penerapan ilmu yang telah diperoleh, memikirkan bagaimana ilmu itu diterapkan bagi kesejahteraan manusia atau untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Nilai dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dalam teori nilai terdapat nilai kemajuan dan nilai terikat. Dalam nilai kemajuan, perkembangan ilmu pengetahuan lebih cepat terjadi. Sedangkan nilai terikat, perkembangan pengetahuan lebih lambat. Perbedaan keduanya terdapat da lam memilih objek penelitian, cara yang digunakan maupun penggunaan produk penelitian.

Ada dua pandangan mendasar dalam pengembangan ilmu menurut aksiologi :
1. Ilmu bebas nilai, kebenaran sebagai satu-satunya dasar pertimbangan dan mengesampingkan nilai lainnya. Ilmu berkembang dan dikembangkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri.
2. Ilmu terikat nilai, memandang perlunya memasukkan pertimbangan etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran. Pengembangan ilmu disesuaikan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat agar dapat memberi manfaat kepada masyarakat.

Pada tahun 1970-an fokus perhatian tertuju pada pembenaran epistemic dan memunculkan teori pembenaran tradisional, yaitu:
1. Fundasionalisme, semua pengetahuan dan pembenaran yang diyakini itu sepenuhnya berlandaskan pengetahuan dan pembenaran noninferensial (misal: sekarang hujan, tetapi belum tentu besok akan hujan juga).
2. Koherentisisme, yang diyakini tidak terlepas dari semua yang diyakininya (misal tidak mau gabung dengan orang miskin karena takut dianggap miskin juga)

Pada tahun 1980-an terjadi perbincangan yang kuat seputar teori pembenaran.
1. Pembenaran evidentialisme (internal ; terjadi dari persepsi kita, oleh mind set kita) pembenaran yang diyakini diperoleh karena adanya dukungan evidensi (bukti).
2. Pembenaran eksternal, pembenaran yang dipengaruhi faktor eksternal seseorang.
3. Pembenaran naturalism, pembenaran yang menggunakan dasar-dasar empirik.

Selain tori pembenaran ada juga tori falsifikasi atau pembuktian salah. Teori ini dicetuskan oleh Karl R. Popper. Pembuktian salah yaitu suatu pernyataan/teori yang dibuktikan salah. Hukum-hukum ilmiah meskipun tidak dapat dibuktikan benar namun selalu dapat diuji oleh usaha sistematis untuk menyangkalnya (to refute). Maka kriteria ilmiah bagi Popper adalah, kemungkinan untuk diuji dan disangkal. Misalnya :
Hujan akan turun. Hujan akan turun esok pagi. Hujan akan turun pagi di Malang.

Disusun oleh:
Hanifa Rahmawati
Andhika Randy Adhitia
Ari Hermanto

Sastra Inggris 2010. Universitas Brawijaya.

DAFTAR PUSTAKA

Wiramihardja, Sutarjo A., 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: Refika Aditama
Halim, A. Ridwan, 1983. 14 Bab dan Dalil Dasar Filsafat Praktis. Jakarta: Ghalia Indonesia
Hamresma, Harry, 1981. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius(Anggota IKAPI)
http://blog.uin-malang.ac.id/abrorainun/2010/10/15/pengertian-aksiologi/, tanggal akses 8 Maret 2011
http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/03/31/positivisme-dan-perkembangannya/, tanggal akses 8 Maret 2011
http://thebookofphylosoph.blogspot.com/search/label/ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT, tanggal akses 9 Maret 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.