Leave a comment

Teori dan Pemikiran Robert N. Bellah

PEMBAHASAN

I. BIOGRAFI

Robert N. Bellah adalah ilmuwan yang telah banyak melahirkan karya-karya berkaitan dengan persoalan agama dan masyarakat. Bellah lahir pada 23 Februari 1927 di Oklahoma Barat Daya, menikah dengan Marie Bellah pada tahun 1949 dan dikaruniai empat anak. Ia adalah keturunan Skotlandia, Presbyterian, dan berasal dari Irlandia Utara. Bellah lulus cum laude dari Harvard College dengan gelar BA dari jurusan antropologi sosial pada tahun 1950. Pada tahun 1955, ia menerima gelar Ph.D. dari Harvard University dari jurusan Sosiologi dan Bahasa Timur Jauh dan diterbitkan disertasi doktornya, Tokugawa Agama, pada tahun 1957. Setelah dua tahun bekerja postdoctoral dalam Studi Islam di McGill University di Montreal, ia mulai mengajar di Harvard pada tahun 1957 dan meninggalkan 10 tahun kemudian sebagai Guru Sosiologi untuk pindah ke University of California, Berkeley. Dari tahun 1967 hingga 1997, ia menjabat sebagai Profesor Sosiologi Ford.

Pada tanggal 20 Desember 2000, Bellah menerima Medali Nasional Amerika Serikat Humaniora. Kutipan, yang Presiden William Jefferson Clinton menandatangani, berbunyi:

“Presiden Amerika Serikat penghargaan National Medal Humaniora ini diberikan kepada Robert N. Bellah atas usahanya untuk menerangi pentingnya komunitas dalam masyarakat Amerika. Sebuah perbedaan antara sosiolog pendidik, ia telah meningkatkan kesadaran kita tentang nilai-nilai yang inti dari lembaga-lembaga demokrasi kita dan bahaya individualisme tak terkendali oleh tanggung jawab sosial.”
Pada bulan Juli 2008, Bellah dan Profesor Hans Joas, yang memegang janji di kedua Universitas of Chicago dan Universitas Freiburg di Jerman, mengadakan konferensi di Pusat Max Weber dari Universitas Erfurt pada “Zaman Aksial dan Konsekuensi Its untuk Sejarah selanjutnya dan Present, “dihadiri oleh sekelompok ahli internasional terkemuka yang tertarik dalam sejarah dan sosiologi komparatif. Pada akhir konferensi, Universitas Erfurt memberikan Bellah sebuah gelar kehormatan. Harvard University Press akan menerbitkan prosiding konferensi ini.

Pada bulan September 2011 Press Belknap dari Harvard University Press menerbitkan Agama dalam Evolusi Manusia: Dari Paleolitik ke Zaman Aksial, hasil bunga seumur hidup Bellah dalam evolusi agama dan tiga belas tahun bekerja pada buku ini.

II. PEMIKIRAN

Persoalan agama adalah realiti yang tak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia telah memasuki segala tingkat sosial masyarakat dengan berbagai bentuk. Perbedaan bentuk ini tidak lepas dari cara memandang dan menafsirkan agama sebagai institusi dan nilai-nilai, fenomena sejarah dan ajaran normatif. Tak jarang, perbedaan ini memperdalam disparitas pemahaman yang juga mempunyai implikasi terhadap sikap sosial, politik dan kebudayaan mereka. Perpecahan internal maupun eksternal agama selalu mewarnai perjalanan agama itu sendiri.

Dalam sejarah panjangnya, agama telah menjadi inspirasi bagi kemajuan manusia dan sekaligus menjadi pemicu bagi munculnya kehancuran tatanan masyarakat dengan berbagai alasan. Tentu saja, tidak boleh dilupakan begitu saja sejarah perang agama. Namun sejarah telah mencatat bahwa dalam sejarah manusia perang salib (perang Muslim dan Kristian) telah meninggalkan trauma kemanusiaan hingga sekarang. Bahkan trauma ini turut mendorong kembali terjadinya perang agama. Tidak hanya Muslim dan Kristian yang menyimpan potensi konflik, tetapi juga agama-agama lain, karena dalam sejarahnya dari setiap agama selalu muncul apa yang disebut dengan kelompok fundamentalis yang mengedepankan cara pemaksaan dalam membangun masyarakat yang diidealkan.

Pemahaman terhadap agama mempunyai pengaruh luar biasa terhadap tindakan manusia. Dalam sejarahnya, sejak abad kesembilan belas ada sebuah kecenderungan yang sama di dalam studi agama untuk meletakkan agama dan akal budi secara bercanggahan satu sama lain. Rasionaliti, yang dirumuskan dalam pengertian luasnya sebagai pemahaman objektif dan kontrol terhadap realiti, berbeda dengan agama, yang dicirikan sebagai sebuah fenomena pra-rasional, tidak-rasional atau bahkan anti-rasional. Hal ini boleh dilihat dari keyakinan positivis awal yang memandang agama sebagai sebuah usaha mendasar untuk mengontrol alam, tetapi ia telah ditakdirkan untuk digantikan oleh metode rasional ilmu pengetahuan. Feurbach, Marx dan Freud lebih keras: bagi mereka agama adalah sebuah tipu-daya, satu pengherotan yang sangat tidak rasional dan berbahaya terhadap realiti, dan penghapusan agama menempati senarai teratas bagi semua agenda mereka untuk kemajuan manusia rasional.

Dengan demikian, pemahaman terhadap agama perlu disusun semula untuk memperoleh pemahaman yang utuh dalam usaha menghindari penyalahgunaan kuasa agama untuk kepentingan manusia itu sendiri. Tentu saja, pendekatan yang digunakan secara ideal mengacu pada berbagai-bagai disiplin, namun demikian sumbangan Robert N. Bellah boleh digunakan untuk memperkaya pemahaman keagamaan sebagai satu cara menghindari pengertian agama yang sempit, tertutup dan fanatik.
Dakwaan agama terhadap kebenaran dirinya yang bersifat universal telah menutup pintu bagi terciptanya dialog, pertemuan dan saling pengertian di antara berbagai agama. Padahal, dakwaan ini telah mengingkari hakikat agama itu sendiri, di mana agama tidak boleh dilepaskan dari sejarah, kondisi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Paling signifikan dari latar ini adalah kesalingterhubungan antara agama satu dengan yang lain. Oleh karena itu, memahami agama tidak boleh dipandang hanya dari satu perspektif.

Sebagai fenomena universal, agama telah banyak memberikan dorongan bagi sesebuah bangsa dalam menciptakan nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan hidup, meskipun tidak diwujudkan secara resmi. Bahkan di negara-negara yang tidak berdasarkan agama sekalipun, agama tetap menjadi ruh dan inspirasi bagi keberlangsungan sebuah bangsa.
Robert N. Bellah telah berjasa mendorong bagi upaya rekonstruksi agama dengan mencadangkan agama sivik. Tentu saja, kajiannya memfokuskan pada fenomena kehidupan keberagamaan di Amerika. Gagasan ini memang telah lama disampaikan oleh Bellah (yang berasal dari sebuah esai yang diterbitkan pada tahun 1976) yang dia sendiri mengatakan tidak akan pernah melupakannya. Memang, gagasan ini menimbulkan penentangan yang sengit walaupun ada juga kelompok yang menerimanya. Tentang hal ini Bellah mengatakan:

“Salah satu bidang yang sering tumpang tindih dan potensial terjadinya konflik adalah apa yang disebut para ahli sosiologi dengan masalah kesahihan, yang meliputi antara lain pertanyaan apakah otoritas politik yang ada bersifat moral dan benar atau apakah ia melanggar kewajiban-kewajiban agama tertinggi. Kebanyakan masyarakat mewujudkan cara-cara berhubungan dengan ketegangan potensial ini. Apakah kita akan menyebutnya semua bentuk institusionalisasi ini sebagai agama sivik atau membatasi istilah itu hanya untuk beberapa bentuk semacam ini, di sinilah kita kita harus menempatkan masalah agama sivik.”
Penggunaan istilah agama sivik masih diperdebatkan, sementara apa yang disebut masalah religio-politik hampir tidak diperdebatkan. Yang terakhir adalah jelas karena agama dan politik tidak boleh dipisahkan di dalam masyarakat. Iman dan kekuasaan selalu, namun tidak mudah, mengambil jarak satu sama lain. Bellah mengatakan bahawa politik, lebih dari sekadar kebanyakan tindakan manusia, jelas berkaitan dengan sesuatu yang tertinggi. Berkenaan dengan penyimpang dalaman dan musuh luaran, kuasa politik mendakwa berhak untuk membuat keputusan hidup atau mati. Di sisi lain, agama menyatakan mengasalkan kesahihannya dari satu kuasa yang melampaui semua kekuatan dunia. Dengan demikian, kemungkinan konflik antara klaim yang punya potensi konflik ini selalu ada, namun benturan-benturannya tidak dengan sendirinya terjadi secara terus-menerus. Di dalam berbagai-bagai zaman dan tempat, politik tidak lebih daripada seni pragmatik memperoleh sesuatu dan agama membatasi dirnya pada persoalan-persoalan “spiritual”. Atau agama dan politik hanya dua pragmatisme berbeda berkenaan dengan ruang eskistensi yang khas. Tampaknya Bellah memberi kemungkinan-kemungkinan hubungan agama dan politik yang rumit dan di sisi lain sederhana, yang dengan sendirinya memberi implikasi bagi amalan sosial khas di dalam masyarakat.

Bellah mencatat bahwa masyarakat Barat pra-moden berpusat pada badan-badan keagamaan dan institusi-institusi politik yang terdapat ketegangan namun juga beberapa keseimbangan dan saling melengkapi. Kekuasaan yang mengabdi kepada energi yang lebih tinggi adalah sahih, sebagai pihak berkuasa. Kekuasaan yang mengabdi pada energi yang lebih rendah adalah tidak sah, menindas, bersifat demonik secara keagamaan. Berbagai peranan politik dan agama serta tipe-tipe wataknya mencerminkan konsepsi-konsepsi tatanan etik organik. Di sini terdapat berbagai gagasan tentang raja yang adil, negarawan, warga negara yang baik, orang suci, padri dan orang awan yang taat, selain juga konsepsi tentang penguasa yang rasuah dan tidak adil, warga negara pemberontak, guru agama penganut bidah dan orang awam yang tidak beriman. Menurut Bellah, semua konsepsi ini pada zaman moden merupakan subjek dari kritik ideologi, yang dilihat semata-mata sebagai topeng bagi kekuasaan yang eksploitatif, dan penilaian-penilaian tradisional seringkali dibalik. Namun demikian, etika organik tradisional ini masih kita ambil sebagai bahagian dari milik kita yang berharga, berdasar, utama dan jahat, yang dikagumi dan sesuatu yang layak mendapat celaan.

Kita boleh mencatat, meskipun Amerika Serikat dikenal sebagai negara sekular, namun tidak sepenuhnya agama menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Paman Sam. Memang, terdapat pemisahan yang tegas antara negara dan agama dengan mendudukkan agama sebagai persoalan pribadi dan bukan publik, tetapi staf kerajaan selalu menggunakan dakwaan-dakwaan keagamaan di dalam membenarkan dasar-dasarnya. Seperti ditulis oleh Robert N. Bellah sendiri bahwa terdapat hubungan agama dan kekuasaan di Amerika Serikat, meskipun ada diktum berikanlah urusan gereja pada pop dan kekuasaan pada negara, yang menjadi dasar bagi tegaknya negara Amerika Serikat. Pengalaman panjang Amerika Serikat dalam memberikan asas bagi kehidupan antara agama yang baik telah memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk mempelajari secara kritis dan komparatif dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Walau bagaimanapun, Bellah telah banyak memberikan sumbangan pada perkembangan wacana keagamaan manusia moden dengan menumpukan perhatian tidak hanya persoalan agama di Amerika Serikat tetapi juga di benua lain, bahkan dia menulis khusus sebuah buku berkaitan dengan Tokugawa Religion, sebagai agama yang hidup di Jepun. Kekhasan agama ini tentu saja tidak boleh dilepaskan dari kebudayaan Jepang itu sendiri, yang bersifat eklektik dengan agama-agama di luar Jepang, khususnya Cina.
Metodologi menjadi sangat penting dalam upaya memahami pemikiran Robert N. Bellah. Metodologi sejarah-kritik adalah salah satu yang boleh digunakan untuk memahami pemikiran Robert N. Bellah.

KESIMPULAN

Sebagai seorang ahli yang diakui dalam isu-isu agama, Bellah telah menghasilkan banyak karya yang tersebar di dalam banyak jurnal, buku dan rencana. Perhatian Bellah yang serius terhadap agama telah menghantarkan dia menjadi pemikir yang disegani kerana kejernihannya dalam memberikan analisis terhadap persoalan-persoalan agama, khususnya persoalan apa yang disebut dengan agama sivik (Civil Religion) di Amerika Serikat.

Walaupun dikenal sebagai ahli sosiologi agama, tetapi Bellah tidak mengenyampingkan disiplin-disiplin lain dalam memotret agama sebagai problem kemanusiaan. Tidak jarang, dia juga menggunakan bidang-bidang kajian lain untuk mengkayakan pengungkapan persoalan religius dengan psikologi, antropologi, falsafah sosial.

(Hanifa Rahmawati. Sastra Inggris 2010. Universitas Brawijaya)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.robertbellah.com/biography.html

http://ahmadsahidah.blogspot.com/2007/05/agama-sivik-sebagai-agama-negara.html

http://muhammadaiz.wordpress.com/materi-sosiologi-pendidikan/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.